Senin, 12 Oktober 2009

PERAN AKAL DALAM MEMBENTUK HUKUM (STUDI KOMPARATIF TERHADAP PEMIKIRAN ST. THOMAS AQUINAS DENGAN ISLAM)


I. PENDAHULUAN

Pemikiran tentang hukum kodrat atau hukum alam telah lama dilakukan, bahkan telah dimulai sebelum Aristoteles, akan tetapi dalam abad 7, Isodorus dan Uskup Sivella mengeluarkan tulisan yang berbunyi “Elymologime of origins” di dalamnya terdapat artes liberals, ilmu kedokteran, ilmu teologi, ilmu psikologi, dan hukum dengan singkat semacam encyclopaedie. Selain membagi hukum dalam tiga macam, yakni ius civile, ius gentium, dan ius naturale, Isodorus juga mengenalkan hukum ketuhanan yang terjadi “menurut kodrat” dan hukum manusia yang terjadi karena kebiasaan.[1]

Dalam sejarah pemikiran hukum, pemikiran tentang hukum kodrat erat kaitannya dengan kaum Stoa, Socrates, Plato dan Aristoteles. Menurut Bodenheimer, pemikiran tentang hukum alam, terutama dikembangkan oleh aliran Stoic yang didirikan oleh Zeno.[2] Konsep tentang kealaman merupakan pusat perhatian aliran ini. Yang dimaksud dengan “alam” ini adalah prinsip yang meresapi seluruh alam semesta, yang mereka kenali dalam bentuk “akal”. Akal yang meresapi seluruh alam semesta ini pulalah yang oleh aliran Stoic dianggap sebagai dasar hukum dan keadilan.[3] Bagi kaum Stoa, pandangannya timbul dari anggapan bahwa seluruh dunia dan segala kejadian di dunia dituntun dan ditentukan oleh hukum abadi, ia adalah rasio ketuhanan yang meliputi seluruh alam. Dari hukum dunia yang abadi, timbullah hukum kodrat kesusilaan yang mengandung peraturan untuk tindakan manusia, kaidah-kaidah kesusilaan dan kaidah-kiadah yuridis. Pada prinsipnya, hidup menurut kodrat berarti hidup sesuai dengan alam yang umum dan hidup sesuai dengan alam manusia sendiri. Apabila hal ini tidak dilaksanakan berarti manusia telah memenuhi kewajiban yang luhur, apabila ia mengikuti pimpinan akalnya yang juga merupakan sebagian dari rasio dunia ketuhanan.

Pada zaman Romawi kuno, seorang ahli hukum dan negarawan Romawi yang ternama, yakni Cicero yang sangat dipengaruhi oleh aliran Stoic ini, telah menyamakan “alam” dengan “akal” seperti yang dinyatakannya bahwa hukum yang sesungguhnya adalah akal yang benar yang sesuai dengan alam; agar ia bisa diterapkan di manapun, tidak berubah dan abadi; ia menuntut kewajiban melalui perintah-perintahnya dan mencegah perbuatan yang salah melalui larangan-larangannya. Dan perintah-perintah serta larangan-larangan tidaklah akan sia-sia saja jika ditujukan kepada orang-orang yang baik-baik, sekalipun kepada orang yang sesat ia tidak mempunyai pengaruh. Adalah suatu dosa untuk mengubah hukum ini, juga tidak dibolehkan untuk mencabut sebagian daripadanya, dan adalah tidak mungkin akan ada hukum yang berbeda-beda untuk Roma serta Athena, atau hukum yang berbeda sekarang dan yang akan datang, melainkan hanya ada satu hukum yang abadi dan tidak akan berubah, yang berlaku untuk semua bangsa dan setiap saat dan hanya akan ada satu penguasa, yaitu Tuhan, atas kita sekalian, oleh ialah pembuat hukum itu, ia yang mengumumkannya dan ia pula yang menghakimi.[4]

Sekalipun hukum alam suatu konsep yang mencakup banyak teori di dalamnya, namun ia mudah dikenali dikarenakan ia merupakan usaha menusia untuk menemukan hukum dan keadilan ideal.[5] Dan salah satu puncak perkembangan hukum alam alam adalah pada abad 12 hingga abad 14, dimana pengaruh agama Kristen masuk dalam konsepsi hukum alam. Hal ini dikarenakan para pemuka gereja telah mulai memasukkan kepercayaan Kristen kepada akal, sebagai hukum tertinggi di seluruh alam semesta.

Hubungan antara hukum alam dengan agama Kristen ini bisa tergambar dari penjelasan W. Friedmann yang menyatakan bahwa :

Decretum gratianum dari abad 12 memulai perubahan dalam pemikiran hukum alam. Hukum alam saat ini diagungkan melebihi identifikasi dengan akalnya. Hal tersebut menjadi bagian dari hukum Tuhan. Dengan demikian hukum alam tidak dapat diubah dan berlaku di atas adat kebiasaan dan tiap hukum positif. Ini mengandung arti bahwa gereja merupakan eksponen otentik dari hukum alam, jadi berdampingan dengan ketentuan-ketentuan di dalam Injil.”[6]

Dominannya posisi gereja sebagai penafsir otentik agama Kristen pada masa itu, salah satu pemikir politik dan hukum yang membenarkan otoritas gereja adalah St. Thomas Aquinas, dimana salah pemikirannya adalah menjadikan akal sebagai landasan yang menentukan benar tidaknya suatu hukum. Bahwa setiap hal yang dianggap baik oleh akal manusia, maka tindakan tersebut berarti baik dan sesuai dengan hukum Tuhan. Sebaliknya setiap hal yang dianggap buruk oleh akal, maka perbuatan atau tindakan tersebut berarti buruk dan bertentangan dengan hukum Tuhan. Oleh karenanya dalam tulisan ini yang menjadi pokok pembahasan adalah apakah setiap hal yang dianggap baik oleh akal manusia, maka tindakan tersebut berarti baik dan sesuai dengan hukum Tuhan. Sebaliknya setiap hal yang dianggap buruk oleh akal, maka perbuatan atau tindakan tersebut berarti buruk dan bertentangan dengan hukum Tuhan ?

II. TEORI ST. THOMAS AQUINAS (1225-1274 M)

Aquinas adalah seorang filosof terbesar dari aliran scholastic di abad pertengahan. Ide-ide yang dibawa oleh St Thomas Aquinas (terkadang disebut sebagai aliran Thomisme – yang dilafalkan toamisme), membentuk basis aspek pokok metode pengajaran di gereja Katolik Roma untuk kurun waktu lebih dari tujuh abad. Ada empat model hukum Aquinas, yaitu masing-masing hukum eternal, divine, natural, dan human.[7]

Aquinas menjelaskan konsep hukum eternal sebagai “a dictate of practical reason coming from a person who has the charge of a perfect community” (sebuah petunjuk praktis yang datang dari seseorang yang memiliki pengaruh dari sebuah komunitas yang diakui). Kemudian Aquinas lebih lanjut menjelaskan bahwa “if follows that the whole universe is governed by divine reason, which is beyond time, and therefore is the source of that law which may properly be called eternal” (jika hal ini diikuti oleh pernyataan bahwa seluruh alam semesta ini diatur oleh Tuhan, yang tidak terikat waktu, yang kemudian disebut sebagai hukum Tuhan).[8]

Lebih lanjut Mc. Leod menjelaskan secara singkat empat model hukum yang diungkapkan oleh Aquinas bahwa:

“Aquinas menjelaskan konsep hukum eternal sebagai “sebuah petunjuk praktis yang datang dari seseorang yang memiliki pengaruh dari sebuah komunitas yang diakui”. Hal ini diikuti oleh pernyataan bahwa seluruh alam semesta ini diatur oleh Zat yang Maha Kuasa yang kemudian disebut sebagai hukum divine.

Sementara untuk penjelasan apa yang dimaksud hukum natural, Aquinas menyatakan bahwa setiap subyek, misalnya manusia turut berperan serta secara penuh dibanding anggota yang lain, karena “setiap orang memiliki kecenderungan untuk menentukan sebuah titik terlacak secara tepat”.

Perbedaan penting sifatnya krusial atau teramat penting adalah bahwa hanya Tuhan yang tahu tentang bahwa “partisipasi hukum natural tidaklah jauh berbeda dari hukum eternal baik untuk manusia maupun ciptaan lain sehingga dapat diartikan bahwa setiap orang paham tentang hukum natural”.

Ringkasnya, Aquinas tidak hanya melanjutkan tradisi masa sebelum agama Kristen yang menetapkan hukum natural sebagai sesuatu yang bisa dipelajari manusia, tapi menegaskan kembali tentang apa yang pernah disampaikan Augustine ke dalam tradisi Katolik Roma dengan memadukan unsur hukum dengan metode penggunaan media yang bisa dipelajari bersama dalam konteks ilmu agama Kristen. Dalam hal ini, ia secara sadar telah menempatkan gereja di posisi yang unik namun berpengaruh.

Ketiga, adalah apa yang disebut dengan hukum human, yang pada mulanya juga mengambil acuan pada realitas hukum alam. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa manusia yang diarahkan pada “sesuatu yang lain akan membuat sesuatu yang lain itu terlihat lebih spesifik dan jelas” walaupun pada hakikatnya hukum karya manusia hanya “mengobservasi kondisi-kondisi yang mungkin berkaitan dengan hukum itu sendiri”. Secara lebih khusus, hukum seperti ini bernilai penting karena, sebagaimana yang dikatakan Aristoteles dalam bukunya Politics, kekuatan yang dipunyai manusia itu adalah cerminan bahwa manusia memiliki derajat yang lebih tinggi dari binatang yang lain.

Aquinas pada akhirnya mengaitkan permasalahan tersebut dengan hukum divine, walaupun dalam beberapa cara penerapannya kategori ini secara hirarki terbolak-balik. Namun, ia berhasil mengembangkan topik tersebut menjadi empat sub pembahasan.

Pertama, orang akan digiring dan tunduk pada aturan hukum.

Kedua, fakta mengatakan bahwa keadilan yang diciptakan manusia kadarnya beragam yang secara tak langsung mengatakan bahwa hukum manusia itu sendiri juga beragam tingkatannya.

Ketiga, hukum manusia itu dibatasi oleh hal-hal yang hanya mampu ditangkap pancaindera dan alam pemikiran manusia. Karena, di luar tersebut sudah merupakan wilayah kewenangan hukum Tuhan.

Keempat, menurut Augustine, manusia tidak bisa menguasai secara keseluruhan. Apalagi sebagai manusia ada kecenderungan untuk takut melakukan sesuatu yang tidak senonoh atau perbuatan dosa.

Pada pertanyaan tentang validitas hukum buatan manusia, Aquinas mengatakan bahwa “hukum yang tidak adil sama dengan bukan hukum’ dan mempertegas pernyataan tersebut dengan dua konsekuensinya. Pertama, adanya semacam potensi ketidaksetujuan dengan….aturan-aturan yang ditetapkan. Kedua, kekuatan hukum terletak pada seberapa adil pelaksanaannya”.

Aquinas membuat sebuah perumpamaan ini dengan adanya dorongan untuk memberlakukan suatu peraturan bahwa orang tidak boleh membunuh orang lain, tidak ada upaya saling menyakiti satu sama lain, namun yang terjadi memang di luar kemampuan, karena yang berlaku adalah hukum alam.

Untuk permasalahan kewajiban mentaati hukum yang dibuat oleh manusia, Aquinas menggambarkannya dalam dua situasi yang berbeda. Pertama, hukum adalah sesuatu yang sangat bertolak belakang dari apa yang dikehendaki manusia. Dalam hal ini mungkin saja hukum hanya bermanfaat bagi yang terlibat dalam pembuatannya saja, bukan komunitas masyarakat yang lebih luas; atau bisa juga memberikan manfaat bagi suatu komunitas, namun tidak sebesar bagi para pihak legislatif, atau hukum yang dibuat mempersulit langkah para anggota komunitas dalam bertindak.

Kedua, hukum bisa bertolak dengan ketetapan-ketetapan hukum divine. Aquinas memberikan satu contoh tentang adanya perintah dari seorang penguasa untuk menyembah dan mengagung-agungkan dirinya.”[9]

Sekalipun Aquinas menerima pengaruh dari Aristoteles, tetapi pemikiran yang dikembangkannya dilandasi dengan dogma agama kristen, sehingga merupakan suatu sistem pemikiran tersendiri. Dalam konsep hukum alam, sebagaimana yang terlihat dari pernyataannya, Aquinas berpendapat bahwa hukum adalah suatu peraturan yang berasal dari akal untuk kebaikan umum yang dibuat oleh seorang yang mempunyai kewajiban untuk menjaga masyarakatnya dan mengundangkannya.[10] Bahwa segala kejadian di alam dunia ini diperintah dan dikemudikan oleh suatu “undang-undang abadi” (lex ecterna) yang menjadi dasar kekuasaan dari semua peraturan-peraturan lainnya. Aquinas berpendapat bahwa terdapat asas umum/pokok yang memiliki kekuatan yang mutlak, tidak mengenal kekecualian, sebab ia universal.[11]

Hal ini sedikit berbeda dengan konsep Aritoteles dan Hugo de Groot tentang hukum alam. Walaupun ketiga orang tersebut sama-sama sebagai para tokoh mazhab hukum alam, namun Aristoteles berpendapat hukum yang diperoleh orang-orang berpikiran sehat dirasakan sebagai selaras dengan hukum kodrat. Sedangkan Hugo de Groot menyatakan bahwa hukum adalah pertimbangan pikiran yang menunjukkan mana yang benar dan mana yang tidak benar.[12]

Aquinas juga berpendapat bahwa seluruh dunia dikuasai oleh hukum yang abadi (lex ecterna) dalam mana segala undang-undang lainnya menemukan dasar dan alasan kekuatan mengikatnya. Hukum abadi itu tidak lain daripada rasio ketuhanan yang mengatur segala yang diciptakan, sesuai dengan kodratnya.[13]

Lex ecterna adalah kehendak dan pikiran Tuhan yang menciptakan dunia ini. Manusia dikaruniai Tuhan dengan kemampuan berpikir dan kecakapan untuk membedakan baik dan buruk, serta mengenal berbagai peraturan perundang-undangan yang langsung berasal dari “undang-undang abadi” itu, dan yang oleh Aquinas dinamakan “hukum alam” (lex naturalis).

Hukum alam tersebut hanyalah memuat asas-asas umum seperti misalnya:

a. Berbuat baik dan jauhilah kejahatan;

b. Bertindak menurut pikiran yang sehat;

c. Cintailah sesamamu seperti engkau mencintai dirimu sendiri.[14]

Menurut Aquinas, asas-asas pokok tersebut mempunyai kekuatan yang mutlak, tidak mengenal kekecualian, berlaku di mana-mana dan tetap tidak berubah sepanjang jaman.[15]

Diantara konsep hukum yang dibuat oleh Aquinas adalah konsep hukum lex eternal. Dengan mengutip tulisan Bodenheimer, Satjipto Rahardjo menyebutkan bahwa :

lex aeterna[16] adalah rencana pemerintahan sebagaimana dibuat oleh Sang Raja Diraja. Ia adalah akal keilahian yang menuntun semua gerakan dan tindakan dalam alam semesta. Tetapi tidak ada manusia yang mampu untuk menangkap lex aeterna dalam keseluruhannya. Orang hanya bisa menangkap sebagian daripadanya melalui akal pikiran yang dianugerahkan oleh Tuhan kepadanya. Bagian yang bisa ditangkap ini disebut sebagai lex naturalis. Lex naturalis ini memberikan pengarahan kepada kegiatan manusia melalui petunjuk-petunjuk umum. Petunjuk yang paling dasar adalah, bahwa apa yang baik harus dilakukan, sedang yang buruk dihindari. Mengenai apa yang disebut sebagai baik, Aquinas mengaitkannya kepada apa yang merupakan kecenderungan alamiah pada manusia. Pertama, adalah insting manusia yang alamiah untuk mempertahankan hidupnya. Kedua, daya tarik antara kedua jenis kelamin dan hasrat untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Ketiga, manusia mempunyai hasrat alamiah untuk mengenal Tuhan dan kecenderungan untuk menolak ketidaktahuan. Empat, manusia ingin hidup dalam masyarakat dan oleh karena itu adalah suatu hal yang alamiah pada manusia untuk menghindari perbuatan yang merugikan orang-orang yang hidup bersamanya.”[17]

Dari pernyataan di atas, terlihat bahwa Aquinas dengan tegas menolak penyamaan hukum alam dengan hukum abadi yang dibuat oleh kanonis abad pertengahan. Ia mendefinisikan hukum alam sebagai bagian dari hukum abadi yang difahami oleh akal manusia.[18] Bagi manusia, hukum alam mempunyai signifikansi yang berbeda dengan makhluk lainnya. Makhluk non-rasional diatur oleh hukum-hukum fisik alam dalam kenyataan yang pasti dan tidak berubah di mana setiap obyek alam berjalan tanpa mempunyai pemahaman. Makhluk rasional tunduk pada hukum abadi dengan cara yang berbeda, sehingga mereka, tidak sebagaimana makhluk lain, bertindak persisinya karena mempunyai pengetahuan akan tujuannya. Jadi “segala sesuatu yang dengan kodrat manusia difahami oleh akal sebagai hal yang baik menjadi obyek tindakan, dan kebalikannya dianggap jahat, dan menjadi obyek yang dijauhi”.[19]

Dari uraian di atas, sekalipun Aquinas tidak secara langsung menyatakan bahwa setiap hal yang dianggap baik oleh akal manusia, maka tindakan tersebut berarti baik dan sesuai dengan hukum Tuhan. Sebaliknya setiap hal yang dianggap buruk oleh akal manusia, maka perbuatan atau tindakan tersebut berarti buruk dan bertentangan dengan hukum Tuhan. Namun secara tersirat dapat disimpulkan bahwa setiap hal yang dianggap baik oleh akal manusia, maka tindakan tersebut berarti baik dan sesuai dengan hukum Tuhan. Demikian pula sebaliknya.

III. PERAN AKAL DALAM MEMBENTUK HUKUM MENURUT ISLAM

Sebagaimana yang telah diuraikan di atas, bahwa menurut Aquinas akal manusia itu mampu mengetahui baik dan buruknya suatu perbuatan, bahkan akal tersebut dijadikan sebagai penentu baik atau buruknya suatu perbuatan. Apabila menurut akal manusia bahwa perbuatan itu baik, maka itu adalah baik, yang sesuai dengan hukum alam. Sebaliknya jika menurut akal manusia itu buruk, maka itu adalah perbuatan yang buruk dan tidak sesuai dengan hukum alam. Dan dikarenakan hukum alam merupakan bagian dari hukum abadi (lex eternal) [20], maka baik atau buruknya suatu perbuatan menurut akal manusia, maka demikian pula menurut lex eternal. Dengan demikian secara tidak langsung dapat dinyatakan bahwa setiap hal yang diputuskan oleh akal manusia, pada hakekatnya adalah sesuai dengan lex eternal.

Pandangan Aquinas yang menjadikan akal manusia sebagai penentu benar – salah, atau baik – buruknya suatu perbuatan, jika dibandingkan dengan Islam, maka akan terlihat banyak perbedaan, diantaranya :

Pertama, dalam pandangan Islam, yang berhak membuat hukum hanya Allah SWT, Tuhan yang menciptakan manusia, bukan manusia. Di antara umat Islam tidak ada perselisihan b ahwa sumber hukum syara bagi semua perbuatan mukallaf adalah Allah SWT, baik hukum mengenai perbuatan mukallaf itu telah Dia jelaskan secara langsung dalam beberapa nash yang telah Dia wahyukan kepada Rasul-Nya, atupun Dia memberi petunjuk para mujtahid untuk mengetahui hukum mengenai perbuatan mukallaf dengan perantaraan dalil-dalil dan tanda-tanda yang telah disyariatkan untuk mengistimbathkan hukumnya.[21] Sebagaimana firman Allah SWT: “Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah” (QS. Al An’am : 57). Juga firman-Nya: “Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang telah Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu” (QS. Al Maidah: 48). Dari dalil-dalil tersebut kemudian dimunculkan kaidah ushul yang terkenal, yakni “La hukma illa lillah” (Tidak ada hukum kecuali milik Allah).[22] Manusia tidak berhak untuk membuat hukum, bahkan salah satu tugas utama manusia di muka bumi ini adalah menegakkan hukum-hukum Allah SWT. Manusia harus tunduk, patuh dan taat terhadap segala keputusan hukum yang telah ditetapkan oleh Allah SWT, baik dalam kehidupan pribadi seperti ibadah dan akhlak, maupun dalam kehidupan bernegara seperti menjatuhkan hukum (pidana atau perdata), serta memberi keputusan atau kebijakan terhadap masalah ekonomi, politik, pemerintahan, militer dan sebagainya, semuanya harus berdasarkan dan sesuai dengan aturan-aturan Allah SWT. Bagi mereka yang melanggar aturan-aturan-Nya, Allah SWT mencap mereka sebagai orang yang kafir, zalim, dan fasik,[23] di mana mereka diancam dengan siksa dan azab yang sangat pedih di hari kiamat.

Kedua, dalam pandangan Islam seluruh perbuatan manusia, dan seluruh benda-benda yang digunakannya dan/atau berhubungan dengan perbuatan manusia, hukum asalnya adalah mengikuti Rasulullah Saw dan terikat dengan hukum-hukum risalah beliau. Keumuman ayat-ayat hukum menunjukkan bahwa dalam masalah-masalah tersebut wajib hukumnya merujuk kepada syara dan terikat dengan hukum-hukum syara. Allah SWT : “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya untukmu, maka tinggalkanlah (QS. Hasyr : 7). “Maka demi Tuhanmu (hai Muhammad), mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim/pemutus terhadap perkara yang mereka perselisihkan” (QS. An Nisaa : 65). “Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah)” (QS. As Syuura : 10). “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-Nya” (QS. An Nisaa : 59).[24] Dalil-dalil ini menunjukkan bahwa pada dasarnya wajib hukumnya mengikuti syara dan terikat dengannya dalam hal perbuatan manusia maupun benda-benda yang digunakannya. Dengan demikian, seorang muslim tidak boleh melakukan atau meninggalkan suatu perbuatan, kecualai setelah mengetahui hukum Allah untuk perbuatan itu, apakah hukumnya wajib atau mandub sehingga dia dapat melakukan perbuatan itu; ataukah hukumnya haram atau makruh sehingga dia harus meninggalkannya, ataukah mubah sehingga dia berhak memilih untuk melakukan perbuatan itu atau meninggalkannya. Atas dasar inilah, maka untuk perbuatan manusia berlaku kaidah bahwa hukum asal perbuatan manusia adalah terikat dengan hukum Allah.[25]

Ketiga, adalah suatu kenyataan bahwa akal manusia memiliki keterbatasan. Manusia tidak mampu menjangkau apa yang ada di luar batas kemampuan indera dan akalnya. Kekuatan akalnya adalah terbatas, sekalipun ia meningkat dan bertambah, namun ia (akal) akan sampai pada satu titik yang tidak mungkin untuk dilampauinya.[26] Selain itu penilaian seseorang terhadap suatu perbuatan yang didasarkan pada pemikirannya sering berbeda dengan orang lain. Kadangkala apa yang dianggap baik oleh A, namun oleh B hal itu bisa dianggap buruk. Bahkan, setiap manusia pada dasarnya tidak mengetahui secara meyakinkan akan hakikat dirinya sendiri. Dia tidak mengetahui mana yang baik dan buruk secara meyakinkan, juga tidak mengetahui kemaslahatan apa yang terbaik untuk dirinya, bahkan dia juga tidak mengetahui secara meyakinkan mana yang benar dan mana yang salah. Justru kebanyakan manusia adalah termasuk orang yang paling banyak berpaling dan menolak kebenaran, sebagaimana firman Allah SWT: “kebanyakan mereka membenci kebenaran” (QS. Al Mu’minun: 70), juga dalam ayat yang lain disebutkan : “Sebenarnya kebanyakan mereka tidak mengetahui kebenaran sehingga mereka berpaling” (QS. Al Anbiya: 24). Oleh karenanya jika penentuan baik – buruknya suatu perbuatan diserahkan kepada akal manusia, maka akan terjadi kekacauan dan ketidakkonsistenan. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Ahmad Mahmud bahwa realitas membuktikan hingga sekarang ini mereka (manusia ; penulis) belum mampu untuk menetapkan hukum – baik menyangkut benda maupun perbuatan – secara final dan benar. Kita biasa menyaksikan betapa mereka selalu melakukan revisi dan perubahan terhadap berbagai undang-undang yang ada sehingga pengembangan sistem sistem hukum merupakan hal yang niscaya dalam menyelesaikan problematika mereka.[27] Oleh karenanya dalam Islam dimunculkan kaidah ushul tentang masalah kemaslahatan, yakni “Al hasan (terpuji) itu adalah apa-apa yang dikatakan baik oleh syara, dan al qabih (tercela) itu adalah apa-apa yang dinyatakan buruk oleh syara”, serta kaidah “ Al khair (Kebaikan) itu adalah apa-apa yang diridahi oleh Allah, dan as syarr (keburukan) itu adalah apa-apa yang dibenci oleh Allah”.[28] Kebenaran sesungguhnya tidak bergantung pada banyaknya orang, melainkan bergantung pada sumber kebenarannya. Dan sumber kebenaran yang hakiki, yang tidak dipersilisihkan lagi adalah Allah SWT, Tuhannya manusia, Yang menciptakan dan memberi aturan serta petunjuk hidup untuk manusia. Firman Allah SWT: “Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu” (QS. al Baqarah: 147).

Keempat, realitas menunjukkan bahwa masyarakat dunia ini memiliki berbagai faham keyakinan (kepercayaan) dan agama, di mana masing-masing kepercayaan dan agama tersebut berbeda terhadap masalah ketuhanan dan standar nilai kebenaran. Jika demikian realitasnya, maka suatu hal yang mustahil jika masing-masing masyarakat yang berbeda agama dan kepercayaannya itu mengklaim bahwa perbuatan yang menurut akal mereka baik adalah sesuai dengan hukum Tuhan. Masyarakat Cina, Rusia, dan Kuba yang menganut faham komunis yang berasaskan faham materialisme – atheis (bisa) mengklaim bahwa apa yang baik menurut akal mereka adalah sesuai dengan hukum Tuhan, demikian pula masyarakat AS, Inggris, dan Eropa yang mayoritas penduduknya beragama Kristen juga (bisa) mengklaim bahwa apa yang baik menurut akal mereka adalah sesuai dengan hukum Tuhan. Dan hal yang sama juga bisa diklaim oleh negeri-negeri Islam, bahwa apa yang baik menurut akal mereka adalah sesuai dengan hukum Tuhan. Lalu di antara berbagai macam perbuatan (dan pernyataan) tersebut, mana yang benar ? Tidak mungkin masyarakat komunis yang berasaskan materalisme-atheis mewakili hukum Tuhan, sebab mereka sendiri tidak mengakui adanya agama (Tuhan). Demikian pula orang Islam memandang bahwa selain Islam, semua agama yang ada adalah salah, hanya Islam yang benar. Akibatnya dalam pandangan Islam tidak mungkin apa yang baik menurut akal mereka adalah sesuai dengan hukum Tuhan (Allah SWT), sebab mereka yang tidak beragama Islam. Hal yang juga (akan) difahami oleh mereka yang beragama selain Islam. Oleh karenanya apa yang dilontarkan oleh Aquinas bahwa apa yang baik menurut akal mereka adalah sesuai dengan hukum Tuhan merupakan suatu perkara tidak bisa dipertanggungjawabkan berdasarkan suatu aqidah (agama).

Kelima, dalam pandangan Islam kedudukan akal adalah sebagai dasar atau landasan seseorang untuk beriman kepada Allah SWT. Oleh karenanya tuntutan untuk beriman kepada Allah SWT hanya ditujukan kepada manusia atau orang-orang yang berakal. Sedangkan bagi mereka (sekalipun mereka adalah manusia) yang tidak berakal (yakni tidak sempurna akalnya, seperti anak kecil dan orang gila), maka tidak ada tuntutan bagi mereka untuk beriman kepada Allah. Dengan demikian tidak ada pertentangan antara agama (keyakinan) dengan akal.

Menurut Muhammad Hanini, sekalipun peran akal telah diakui keberadaannya dalam Islam, akan tetapi dia (M. Hanini ; penulis) tidak menyerukan penggunaan aspek rasionalitas secara mutlak, karena seruan semacam ini keliru. Islam telah membatasi peran akal, tetapi tidak berarti memberangusnya secara keseluruhan. Pemberangusan peran akal secara keseluruhan pada dasarnya bertentangan dengan prinsip akidah Islam; dengan keberadaannya yang mesti dibangun atas dasar akal. Sikap demikian juga bertentangan dengan ratusan ayat yang diserukan kepada ulil albab, ulil nuha, dan ulil abshar agar mereka memikirkan alam semesta; mengungkap rahasia-rahasianya; serta memahami bahwa alam semesta pasti diciptakan oleh Al Khaliq, Allah SWT, yang wajib diesakan dalam ibadah. Setelah itu akal digunakan untuk membangun keimanan pada risalah nabi Muhammad SAW. Setelah keimanan ini terbentuk, baru dijelaskan tentang peran wahyu yang telah membatasi peran akal hanya sebagai alat untuk memahami nash-nash dan fakta, tanpa memposisikannya sebagai hakim (penentu benar dan salah) secara mutlak. Pembatasan atas peran akal seperti ini akan menghindarkan keimanan dari omong kosong dan keraguan; dari sekedar prasangka atau sikap taklid pada nenek moyang; serta dari pengingkaran terhadap bulatnya bumi, beredarnya bumi mengelilingi matahari (revolusi), dan seterusnya.[29] Artinya setelah seseorang beriman kepada Allah SWT dengan mempergunakan akalnya secara jernih, maka kewajiban selanjutnya dari seorang (muslim) tersebut adalah menundukkan akalnya di bawah wahyu (Al Quran dan As Sunnah). Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Tidak beriman salah seorang diantara kalian hingga dia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa-apa yang dtang kepadaku, yakni kitabullah dan sunnah rasul-Nya” (HR. Muslim).

IV. PENUTUP

Dengan demikian terlihat perbedaan yang amat besar antara pemikiran Aquinas dengan pemikiran Islam dalam mendudukan peran akal dalam pembentukan suatu hukum. Dan dari pemaparan di atas setidaknya ada lima perbedaan yang cukup mendasar. Sekalipun konsep hukum yang diajukan oleh Aquinas mendapat pengaruh ajaran kristen, dimana Aquinas mengakui akan kemutlakan hukum Tuhan serta keharusan manusia untuk tunduk terhadap hukum Tuhan, namun Aquinas sendiri justru memberikan kebolehan manusia (melalui akalnya) untuk membentuk hukum sendiri, sekalipun hukum buatan manusia itu nantinya harus sesuai dengan hukum Tuhan.

Hal ini bertolak belakang dengan konsep pemikiran Islam tentang hukum. Dalam Islam yang berhak membuat hukum hanyalah Allah SWt semata. Tidak satu orang manusiapun yang berhak (turut campur) dalam menetapkan (membuat) hukum. Manusia (dalam hal ini akalnya) hanya bertugas untuk memahami fakta yang akan dihukumi dan memahami nash syara untuk menghukumi fakta yang dihadapi.

DAFTAR PUSTAKA

Al Jawi, M. Shiddiq. (Trans). Abdul Qadim Zallum. Tanpa Tahun. Demokrasi : Sistem Kufur : Haram Mengambilnya, Menerapkannya, dan Menyebarkannya. Tanpa Penerbit.

Amin, Abu dkk. (Trans). Taqiyuddin An Nabhani. 2003. Peraturan Hidup Dalam Islam. Bogor : Pustaka Thariqul Izzah

Arifin, Mohammad. (Trans). W. Friedmann. 1996. Teori Dan Filasafat Hukum : Telaah Kritis Atas Teori-Teori Hukum. Cetakan III. Jakarta : RajaGrafindo Persada.

Baidlowi, Ahmad & Imam Bahehaqi. (Trans). Henry J. Schmandit. 2002. Filfasat Politik : Kajian Historis Dari Zaman Yunani Kuno Sampai Zaman Modern. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Hanini, Muhammad. Serangan Pemikiran Barat Terhadap Kaum Muslim. 2001. Artikel dalam “Majalah Al Wai’ie” No. 8 Tahun I.

Iskandar, Noer. (Trans). Abdul Wahhab Khallaf. 1996. Kaidah-Kaidah Hukum Islam. Jakarta : RajaGrafindo Persada.

Mahmubah. (Trans). Ahmad Mahmud. 2002. Dakwah Islam. Jilid I. Bogor : Pustaka Thariqul Izzah.

-------------. (Trans). Ahmad Mahmud. 2003. Dakwah Islam. Jilid II. Bogor : Pustaka Thariqul Izzah.

Mc Leod, Ian. 1999. Legal Theory. London : Macmillan Law Masters.

Raharjo, Satjipto. 1991. Ilmu Hukum. Cetakan III. Bandung : Citra Aditya Bakti.

Soeroso, R. 2001. Pengantar Ilmu Hukum. Cetakan IV. Jakarta : Sinar Grafika.

Sudarsono. 2001. Pengantar Ilmu Hukum. Cetakan ketiga. Jakarta : Rineka Cipta.



[1]Sudarsono. 2001. Pengantar Ilmu Hukum. Cetakan ketiga. Jakarta : Rineka Cipta, hlm. 7.

[2]Satjipto Raharjo. 1991. Ilmu Hukum. Cetakan III. Bandung : Citra Aditya Bakti, hlm. 259.

[3]Ibid., hlm. 259.

[4]Ibid., hlm. 259.

[5]Ibid., hlm. 265.

[6]Mohammad Arifin. (Trans). W. Friedmann. 1996. Teori Dan Filasafat Hukum : Telaah Kritis Atas Teori-Teori Hukum. Cetakan III. Jakarta : RajaGrafindo Persada, hlm. 61.

[7]Ian Mc Leod. 1999. Legal Theory. Editor by Marise Cremona. London : Macmillan Law Masters, hlm. 35.

[8]Ibid.

[9]Ibid., hlm. 35 – 38.

[10]Satjipto Rahardjo. Op. cit., hlm. 164; Mohammad Arifin. (Trans). W. Friedmann. Op. cit., hlm. 62.

[11]Sudarsono. Op. Cit., hlm. 7-8. dan hlm. 104; untuk menulis hukum eternal”, Sudarsono menulis “lex ecternal”.

[12]Ibid.

[13]Ibid., hlm. 24 - 25.

[14]Ibid., hlm. 106-107.

[15]Ibid., hlm. 107.

[16]Satjipto Rahardjo menulis “lex eternal” dengan “lex aeterna

[17]Ibid., hlm. 264-265.

[18]Ahmad Baidlowi & Imam Bahehaqi. (Trans). Henry J. Schmandit. 2002. Filfasat Politik : Kajian Historis Dari Zaman Yunani Kuno Sampai Zaman Modern. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, hlm. 209.

[19]Ibid., hlm. 209-210.

[20]R. Soeroso. 2001. Pengantar Ilmu Hukum. Cetakan IV. Jakarta : Sinar Grafika, hlm. 69.

[21]Noer Iskandar. (Trans). Abdul Wahhab Khallaf. 1996. Kaidah-Kaidah Hukum Islam. Jakarta : RajaGrafindo Persada, hlm. 147.

[22]Noer Iskandar. Op. cit., hlm. 148.

[23]lihat QS. Al Ma’idah: 44, 45 & 47.

[24]M. Shiddiq Al Jawi. (Trans). Abdul Qadim Zallum. Tanpa Tahun. Demokrasi : Sistem Kufur : Haram Mengambilnya, Menerapkannya, dan Menyebarkannya. Tanpa Penerbit, hlm. 29 – 30.

[25]Ibid., hlm. 30 – 31.

[26]Abu Amin, dkk. (Trans). Taqiyuddin An Nabhani. 2003. Peraturan Hidup Dalam Islam. Bogor : Pustaka Thariqul Izzah, hlm. 9.

[27]Mahmubah. (Trans) Ahmad Mahmud. 2002. Dakwah Islam. Jilid I. Bogor : Pustaka Thariqul Izzah, hlm. 182.

[28]Mahmubah. (Trans) Ahmad Mahmud. 2003. Dakwah Islam. Jilid II. Bogor : Pustaka Thariqul Izzah, hlm. 60.

[29]Muhammad Hanini. Serangan Pemikiran Barat Terhadap Kaum Muslim. 2001. Artikel dalam “Majalah Al Wai’ie” No. 8 Tahun I., hlm. 33.

Selasa, 06 Oktober 2009

KOMUNISME

Komunisme adalah salah satu ideologi di dunia. Penganut faham ini berasal dari Manifest der Kommunistischen yang ditulis oleh Karl Marx dan Friedrich Engels, sebuah manuskrip politik yang pertama kali diterbitkan pada 21 Februari 1848 teori mengenai komunis sebuah analisis pendekatan kepada perjuangan kelas (sejarah dan masa kini) dan ekonomi kesejahteraan yang kemudian pernah menjadi salah satu gerakan yang paling berpengaruh dalam dunia politik.

Komunisme pada awal kelahiran adalah sebuah koreksi terhadap faham kapitalisme di awal abad ke-19an, dalam suasana yang menganggap bahwa kaumburuh dan pekerja tanihanyalah bagian dariproduksidan yang lebih mementingkan kesejahteraan ekonomi. Akan tetapi, dalam perkembangan selanjutnya, muncul beberapafaksi internal dalam komunisme antara penganut komunis teori dengan komunis revolusioner yang masing-masing mempunyai teori dan cara perjuangannya yang saling berbeda dalam pencapaianmasyarakat sosialis untuk menuju dengan apa yang disebutnya sebagai masyarakatutopia.

Ide Dasar

Istilah komunisme sering dicampuradukkan dengan komunis internasional. Komunisme atau Marxisme adalah ideologi dasar yang umumnya digunakan oleh partai komunis di seluruh dunia. sedangkan komunis internasional merupakan racikan ideologi ini berasal dari pemikiran Lenin sehingga dapat pula disebut "Marxisme-Leninisme".

Dalam komunisme perubahan sosial harus dimulai dari pengambil alihan alat-alat produksi melalui peran Partai Komunis. Logika secara ringkasnya, perubahan sosial dimulai dari buruh atau yang lebih dikenal dengan proletar (lihat: The Holy Family ), namun pengorganisasian Buruh hanya dapat berhasil dengan melalui perjuangan partai. Partai membutuhkan peran Politbiro sebagai think-tank. Dapat diringkas perubahan sosial hanya bias berhasil jika dicetuskan oleh Politbiro. Inilah yang menyebabkan komunisme menjadi "tumpul" dan tidak lagi diminati karena korupsi yang dilakukan oleh para pemimpinnya.

Komunisme sebagai anti-kapitalisme menggunakan system partai komunis sebagai alat pengambil alihan kekuasaan dan sangat menentang kepemilikan akumulasi modal atas individu. pada prinsipnya semua adalah direpresentasikan sebagai milik rakyat dan oleh karena itu, seluruh alat-alat produksi harus dikuasai oleh negara guna kemakmuran rakyat secara merata akan tetapi dalam kenyataannya hanya dikelolah serta menguntungkan para elit partai, Komunisme memperkenalkan penggunaan sistim demokrasi keterwakilan yang dilakukan oleh elit-elit partai komunis oleh karena itu sangat membatasi langsungdemokrasi pada rakyat yang bukan merupakan anggota partai komunis karenanya dalam paham komunisme tidak dikenal hak perorangan sebagaimana terdapat pada paham liberalisme.

Secara umum komunisme berlandasan pada teoriDialektika materi oleh karenanya tidak bersandarkan pada kepercayaan agama dengan demikian pemberian doktrin pada rakyatnya, dengan prinsip bahwa "agama dianggap candu" yang membuat orang berangan-angan yang membatasi rakyatnya dari pemikiran ideologi lain karena dianggap tidak rasional serta keluar dari hal yang nyata (kebenaran materi).

Komunisme dan Pan-Islamisme

Tan Malaka (1922)


Penerjemah: Ted Sprague, Agustus 2009


Ini adalah sebuah pidato yang disampaikan oleh tokoh Marxis Indonesia Tan Malaka pada Kongres Komunis Internasional ke-empat pada tanggal 12 Nopember 1922. Menentang thesis yang didraf oleh Lenin dan diadopsi pada Kongres Kedua, yang telah menekankan perlunya sebuah “perjuangan melawan Pan-Islamisme”, Tan Malaka mengusulkan sebuah pendekatan yang lebih positif. Tan Malaka (1897-1949) dipilih sebagai ketua Partai Komunis Indonesia pada tahun 1921, tetapi pada tahun berikutnya dia dipaksa untuk meninggalkan Hindia Belanda oleh pihak otoritas koloni. Setelah proklamasi kemerdekaan pada bulan Agustus 1945, dia kembali ke Indonesia untuk berpartisipasi dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda. Dia menjadi ketua Partai Murba (Partai Proletar)), yang dibentuk pada tahun 1948 untuk mengorganisir kelas pekerja oposisi terhadap pemerintahan Soekarno. Pada bulan Februari 1949 Tan Malaka ditangkap oleh tentara Indonesia dan dieksekusi.

Kamerad! Setelah mendengar pidato-pidato Jenderal Zinoviev, Jenderal Radek dan kamerad-kamerad Eropa lainnya, serta berkenaan dengan pentingnya, untuk kita di Timur juga, masalah front persatuan, saya pikir saya harus angkat bicara, atas nama Partai Komunis Jawa, untuk jutaan rakyat tertindas di Timur.

Saya harus mengajukan beberapa pertanyaan kepada kedua jenderal tersebut. Mungkin Jenderal Zinoviev tidak memikirkan mengenai sebuah front persatuan di Jawa; mungkin front persatuan kita adalah sesuatu yang berbeda. Tetapi keputusan dari Kongres Komunis Internasional Kedua secara praktis berarti bahwa kita harus membentuk sebuah front persatuan dengan kubu nasionalisme revolusioner. Karena, seperti yang harus kita akui, pembentukan sebuah front bersatu juga perlu di negara kita, front persatuan kita tidak bisa dibentuk dengan kaum Sosial Demokrat tetapi harus dengan kaum nasionalis revolusioner. Namun taktik yang digunakan oleh kaum nasionalis seringkali berbeda dengan taktik kita; sebagai contoh, taktik pemboikotan dan perjuangan pembebasan kaum Muslim, Pan-Islamisme. Dua hal inilah yang secara khusus saya pertimbangkan, sehingga saya bertanya begini. Pertama, apakah kita akan mendukung gerakan boikot atau tidak? Kedua, apakah kita akan mendukung Pan-Islamisme, ya atau tidak? Bila ya, seberapa jauh kita akan terlibat?

Metode boikot, harus saya akui, bukanlah sebuah metode Komunis, tapi hal itu adalah salah satu senjata paling tajam yang tersedia pada situasi penaklukan politik-militer di Timur. Dalam dua tahun terakhir kita telah menyaksikan keberhasilan aksi boikot rakyat Mesir 1919 melawan imperialisme Inggris, dan lagi boikot besar oleh Cina di akhir tahun 1919 dan awal tahun 1920. Gerakan boikot terbaru terjadi di India Inggris. Kita bisa melihat bahwa dalam beberapa tahun kedepan bentuk-bentuk pemboikotan lain akan digunakan di timur. Kita tahu bahwa ini bukan metode kita; ini adalah sebuah metode borjuis kecil, satu metode kepunyaan kaum borjuis nasionalis. Lebih jauh kita bisa mengatakan; bahwa pemboikotan berarti dukungan terhadap kapitalisme domestik; tetapi kita juga telah menyaksikan bahwa setelah gerakan boikot di India, kini ada 1800 pemimpin yang dipenjara, bahwa pemboikotan telah membangkitkan sebuah atmosfer yang sangat revolusioner, dan gerakan boikot ini telah memaksa pemerintahan Inggris untuk meminta bantuan militer kepada Jepang, untuk menjaga-jaga kalau gerakan ini akan berkembang menjadi sebuah pemeberontakan bersenjata. Kita juga tahu bahwa para pemimpin Mahommedan di India – Dr. Kirchief, Hasret Mahoni dan Ali bersaudara – pada kenyataannya adalah kaum nasionalis; kita tidak melihat sebuah pemberontakan ketika Gandhi dipenjara. Tapi rakyat di India sangat paham seperti halnya setiap kaum revolusioner disana: bahwa sebuah pemberontakan lokal hanya akan berahir dalam kekalahan, karena kita tidak punya senjata atau militer lainnya di sana, oleh karena itu masalah gerakan boikot akan, sekarang atau di hari depan, menjadi sebuah masalah yang mendesak bagi kita kaum Komunis. Baik di India maupun Jawa kita sadar bahwa banyak kaum Komunis yang cenderung ingin memproklamirkan sebuah gerakan boikot di Jawa, mungkin karena ide-ide Komunis yang berasal dari Rusia telah lama dilupakan, atau mungkin ada semacam pelepasan mood Komunis yang besar di India yang bisa menentang semua gerakan. Bagaimanapun juga kita dihadapkan pada pertanyaan: apakah kita akan mendukung taktik ini, ya atau tidak? Dan seberapa jauh kita akan mendukung?

Pan-Islamisme adalah sebuah sejarah yang panjang. Pertama saya akan berbicara tentang pengalaman kita di Hindia Belanda dimana kita telah bekerja sama dengan kaum Islamis. Di Jawa kita memiliki sebuah organisasi yang sangat besar dengan banyak petani yang sangat miskin, yaitu Sarekat Islam. Antara tahun 1912 dan 1916 organisasi ini memiliki sejuta anggota, mungkin sebanyak tiga atau empat juta. Itu adalah sebuah gerakan popular yang sangat besar, yang timbul secara spontan dan sangat revolusioner.

Hingga tahun 1921 kita berkolaborasi dengan mereka. Partai kita, terdiri dari 13,000 anggota, masuk ke pergerakan popular ini dan melakukan propaganda di dalamnya. Pada tahun 1921 kita berhasil membuat Sarekat Islam mengadopsi program kita. Sarekat Islam juga melakukan agitasii pedesaan mengenai kontrol pabrik-pabrik dan slogan: Semua kekuasaan untuk kaum tani miskin, Semua kekuasaan untuk kaum proletar! Dengan demikian Sarekat Islam melakukan propaganda yang sama seperti Partai Komunis kita, hanya saja terkadang menggunakan nama yang berbeda.

Namun pada tahun 1921 sebuah perpecahan timbul karena kritik yang ceroboh terhadap kepemimpinan Sarekat Islam. Pemerintah melalui agen-agennya di Sarekat Islam mengeksploitasi perpecahan ini, dan juga mengeksploitasi keputusan Kongres Komunis Internasional Kedua: Perjuangan melawan Pan-Islamisme! Apa kata mereka kepada para petani jelata? Mereka bilang: Lihatlah, Komunis tidak hanya menginginkan perpecahan, mereka ingin menghancurkan agamamu! Itu terlalu berlebihan bagi seorang petani muslim. Sang petani berpikir: aku telah kehilangan segalanya di dunia ini, haruskah aku kehilangan surgaku juga? Tidak akan! Ini adalah cara seorang Muslim jelata berpikir. Para propagandis dari agen-agen pemerintah telah berhasil mengeksploitasi ini dengan sangat baik. Jadi kita pecah. [Ketua: Waktu anda telah habis]

Saya datang dari Hindia Belanda, dan menempuh perjalanan selama empat puluh hari .[Tepuk Tangan]

Para anggota Sarekat Islam percaya pada propaganda kita dan tetap bersama kita di perut mereka, untuk menggunakan sebuah ekspresi yang popular, tetapi di hati mereka mereka masih bersama Sarekat Islam, dengan surga mereka. Karena surga adalah sesuatu yang tidak bisa kita berikan kepada mereka. Karena itulah, mereka memboikot pertemuan-peretemuan kita dan kita tidak bisa melanjutkan propaganda kita lagi.

Sejak awal tahun lalu kita telah bekerja untuk membangun kembali hubungan kita dengan Sarekat Islam. Pada kongres kami bulan Desember tahun lalu kita mengatakan bahwa Muslim di Kaukasus dan negara-negara lain, yang bekerjasama dengan Uni Soviet dan berjuang melawan kapitalisme internasional, memahami agama mereka dengan lebih baik, kami juga mengatakan bahwa, jika mereka ingin membuat sebuah propaganda mengenai agama mereka, mereka bisa melakukan ini, meskipun mereka tidak boleh melakukannya di dalam pertemuan-pertemuan tetapi di masjid-masjid.

Kami telah ditanya di pertemuan-pertemuan publik: Apakah Anda Muslim - ya atau tidak? Apakah Anda percaya pada Tuhan – ya atau tidak? Bagaimana kita menjawabnya? Ya, saya katakan, ketika saya berdiri di depan Tuhan saya adalah seorang Muslim, tapi ketika saya berdiri di depan banyak orang saya bukan seorang Muslim [Tepuk Tangan Meriah], karena Tuhan mengatakan bahwa banyak iblis di antara banyak manusia! [Tepuk Tangan Meriah] Jadi kami telah mengantarkan sebuah kekalahan pada para pemimpin mereka dengan Qur’an di tangan kita, dan di kongres kami tahun lalu kami telah memaksa para pemimpin mereka, melalui anggota mereka sendiri, untuk bekerjasama dengan kami.

Ketika sebuah pemogokan umum terjadi pada bulan Maret tahun lalu, para pekerja Muslim membutuhkan kami, karena kami memiliki pekerja kereta api di bawah kepemimpinan kami. Para pemimpin Sarekat Islam berkata: Anda ingin bekerjasama dengan kami, jadi Anda harus menolong kami juga. Tentu saja kami mendatangi mereka, dan berkata: Ya, Tuhan Anda maha kuasa, tapi Dia telah mengatakan bahwa di dunia ini pekerja kereta api adalah lebih berkuasa! [Tepuk Tangan Meriah] Pekerja kereta api adalah komite eksekutif Tuhan di dunia ini. [Tertawa]

Tapi ini tidak menyelesaikan masalah kita, jika kita pecah lagi dengan mereka kita bisa yakin bahwa para agen pemerintah akan berada di sana lagi dengan argumen Pan-Islamisme mereka. Jadi masalah Pan-Islamisme adalah sebuah masalah yang sangat mendadak.

Tapi sekarang pertama-tama kita harus paham benar apa arti sesungguhnya dari kata Pan-Islamisme. Dulu, ini mempunyai sebuah makna historis dan berarti bahwa Islam harus menaklukkan seluruh dunia, pedang di tangan, dan ini harus dilakukan di bawah kepemimpinan seorang Khalifah [Pemimpin dari Negara Islam – Ed.], dan Sang Khalifah haruslah keturunan Arab. 400 tahun setelah meninggalnya Muhammad, kaum muslim terpisah menjadi tiga Negara besar dan oleh karena itu Perang Suci ini telah kehilangan arti pentingnya bagi semua dunia Islam. Hilang artinya bahwa, atas nama Tuhan, Khalifah dan agama Islam harus menaklukkan dunia, karena Khalifah Spanyol mengatakan, aku adalah benar-benar Khalifah sesungguhnya, aku harus membawa panji [Islam], dan Khalifah Mesir mengatakan hal yang sama, serta Khalifah Baghdad berkata, Aku adalah Khalifah yang sebenarnya, karena aku berasal dari suku Arab Quraish.

Jadi Pan-Islamisme tidak lagi memiliki arti sebenarnya, tapi kini dalam prakteknya memiliki sebuah arti yang benar-benar berbeda. Saat ini, Pan-Islamisme berarti perjuangan untuk pembebasan nasional, karena bagi kaum Muslim Islam adalah segalanya: tidak hanya agama, tetapi juga Negara, ekonomi, makanan, dan segalanya. Dengan demikian Pan-Islamisme saat ini berarti persaudaraan antar sesama Muslim, dan perjuangan kemerdakaan bukan hanya untuk Arab tetapi juga India, Jawa dan semua Muslim yang tertindas. Persaudaraan ini berarti perjuangan kemerdekaan praktis bukan hanya melawan kapitalisme Belanda, tapi juga kapitalisme Inggris, Perancis dan Itali, oleh karena itu melawan kapitalisme secara keseluruhan. Itulah arti Pan-Islamisme saat ini di Indonesia di antara rakyat kolonial yang tertindas, menurut propaganda rahasia mereka – perjuangan melawan semua kekuasaan imperialis di dunia.

Ini adalah sebuah tugas yang baru untuk kita. Seperti halnya kita ingin mendukung perjuangan nasional, kita juga ingin mendukung perjuangan kemerdekaan 250 juta Muslim yang sangat pemberani, yang hidup di bawah kekuasaaan imperialis. Karena itu saya tanya sekali lagi: haruskah kita mendukung Pan-Islamisme, dalam pengertian ini?

Saya akhiri pidato saya. [Tepuk Tangan Meriah]