Kamis, 27 Januari 2011

Tuhan Tidak Beragama Menunjukkan Jalan Kebenaran

Munculnya semua agama di dunia ini tak lepas dari tokoh utama yang selalu menjadi pusat dari semua kehidupan ini yaitu Sang Maha Pencipta. Dan masing-masing agama, entah lewat ilham atau hasil pemikiran manusia, Sang Maha itu sering dinamakan Allah, Tuhan, Dewa, dan lain sebagainya, terserah manusia memberikan nama pada DIA. Semua pengikut agama tersebut pun menganggap bahwa agamanya tak ada yang salah, agama yang dianutnya adalah yang paling benar, tentu dengan berbagai alasan yang irrasional maupun yang rasional. Namun ketika ada yang kurang memuaskan, mereka selalu menjawab bahwa semua itu menjadi RAHASIA TUHAN.

Ada juga yang tidak menganut suatu agama karena menganggap bahwa TUHAN TIDAK BERAGAMA, percaya hati nurani diri sendiri dan mengikutinya akan menemukan KEBENARAN. Manusia lah yang membuat agama bukan Tuhan, Tuhan lah kebenaran sejati, kebenaran yang tidak perlu pembenaran dari manusia. Sebab pembenaran manusia belum tentu kebenaran Tuhan, karena pembenaran manusia sering berangkat dari KESALAHAN, sementara Tuhan adalah KEBENARAN sebab memberikan JALAN KEBENARAN bukan JALAN PEMBENARAN. Tuhan yang benar akan membawa di JALAN YANG BENAR.

Oknum Kristen : “Walau saya korupsi, tapi karena hidup saya sudah ditebus Yesus Kristus, saya kelak pasti masuk sorga!”

Oknum Islam : “Korupsi tidak masalah asal kita menjalankan rukun Islam, naik Haji sudah pasti, beramal atau kalau perlu membangunkan Masjid buat masyarakat, kelak saya mati pasti masuk sorga!”

Itulah contoh PEMBENARAN menurut manusia dalam kehidupan nyata ini yang dianggapnya sudah sesuai dengan ajaran agamanya.

Lalu seberapa jauh pembenaran para umat beragama dalam membenarkan Kitab Sucinya yang merasa paling benar menceritakan kebenaran tentang Allah/Tuhan Sang Pencipta itu? Apakah memang masing-masing agama mempunyai Sang Pencipta yang tidak sama? Tapi kalau mereka semua sepakat mempunyai Sang Pencipta yang sama, mengapa selalu saja terjadi peperangan antar masing-masing pemeluk agama dengan dalih demi MEMBELA TUHAN?

Perang membela agama atau membela Tuhan masih akan terus berlangsung antar pemeluknya, bahkan mungkin AKHIR DUNIA berawal dari perang ANTAR AGAMA ini, dengan pola pikir yang sama semua perang itu dilakukan untuk Tuhan, mereka pikir semua itu dilakukan atas perintah Allah/Tuhan. Tanpa disadarinya, segala debat agama yang berujung perang nyata itu hanya untuk EGO sendiri atau kelompoknya. Apa alasan mereka membela Tuhan?

Sudah tertulis di Kitab Suci, begitulah argumen akhirnya.

Sungguh sadarkah bahwa mereka sebagai manusia ciptaan Tuhan hendak membela ciptaan-Nya? Apakah kekuasaan Tuhan yang SANGAT BESAR tidak mampu membela diri-Nya sendiri hingga perlu dibela manusia ciptaan-Nya? Lihatlah untuk mengenal-Nya Tuhan sudah mengutus berulangkali para Nabi, tapi apa yang terjadi? Mereka selalu memusuhi utusan Tuhan itu dan selalu berusaha membunuhnya, coba bayangkan bagaimana jika Tuhan sendiri yang
datang menemui manusia?

Manusia pasti membunuh-Nya cing!

Apakah tandanya orang mengenal Tuhan ?
Hanya karena gerak bibir dan goyang lidah menyuarakan ayat-ayat dalam Kitab Suci sudah cukup menjadi tanda mengenal Tuhan ?

Orang bisa saja mengenal Tuhan tanpa mempedulikan perilaku kebajikan, akan tetapi tak mungkin orang mengabdi kebajikan tanpa mengenal Tuhan! PERBUATAN NYATA yang menjadi ukuran, BUKAN gerak bibir dan goyang lidah!

Selama kita menjadi manusia, lebih-lebih yang sudah beragama dan merasa mengenal Tuhan, pernahkah berdoa untuk si miskin gembel kelaparan ?
Pernahkah berdoa untuk si jahat agar kembali ke jalan yang benar ?
Pernahkah kita membantu untuk pelaksanaan doa-doa itu dengan perbuatan nyata?
Apa jasa kita untuk negara dan bangsa ?
Apakah orang-orang menjadi baik setelah kita setiap hari bersembahyang?

BERBICARA tentang agama tanpa menyebut satu pun ayat dalam Kitab Suci apakah bisa dikatakan tidak membicarakan tentang agama? Apakah membicarakan agama HARUS menyertakan ayat-ayat agar terlihat lebih Alkitabiah? Bukankah agama lebih menuntut TINDAKAN NYATA, bukan kehebatan ilmu dari pemeluknya. Menjadi pemeluk agama yang baik tidak mengharuskan kita menjadi AHLI KITAB.

Saya teringat guru agama saya pernah mengajarkan pelajaran agama dengan cara membersihkan halaman sekolah.

“Pak katanya pelajaran agama? Kok cuma bersih-bersih?”

“Ya, ini juga pelajaran agama. Anak-anak pun sudah dapat dikenal dari pada perbuatannya, apakah bersih dan jujur kelakuannya. Ini tindakan iman, “

Kami tersenyum memahami. Dengan begitu agama masih tetap agama biarpun tak diwarnai banyak ayat-ayat dalam kitab suci.

Memang di dunia, tiada yang sempurna kecuali Tuhan. Apalagi manusia, mahluk yang banyak sekali melakukan penyelewengan-penyelewengan, mahluk yang selemah-lemahnya, setiap manusia tentu ada saja kelemahannya di
samping kebaikan-kebaikannya, pembenaran-pembenaran yang dikatakannya sering tidak sesuai KEBENARAN TUHAN, sebab pembenaran manusia sering membeda-bedakan umat manusia di bumi ini. Kebenaran Tuhan SEPERTI MATAHARI yang memberikan sinar yang sama kepada semua ciptaan-Nya.

Materi press confrence Walhi Kalimantan Selatan

Media Briefing

WALHI Kalimantan Selatan

Kamis, 27 Januari 2011

Launching

Posko Pengaduan Korupsi Pertambangan dan Lingkungan Hidup

Emas Hitam, Lumbung Korupsi?

Kalimantan Selatan sangat kaya akan batubara. Namun menjadi pertanyaan bagi kita semua apakah dalam pengelolaan emas hitam yang ada di Kalimantan Selatan sudah lah benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar dan apakah keuntungan yang perusahaan tambang dapatkan itu telah benar-benar sampai ke ”kantong” pemerintah daerah atau malah sesungguhnya dunia pertambangan di kalsel menjadi sebuah lumbung korupsi yang selama ini belum terlihat secara jelas oleh masyarakat banyak.

Secara umum banyak sekali potensi peluang korupsi di dalam sektor pertambangan itu sendiri, misalnya saja persekongkolan investasi modal antara pemerintah, korporasi, dan aparat penegak hukum (Korporatokrasi), Perlindungan terhadap aktifitas illegal, Rekayasa/manipulasi data dan informasi terkait data produksi, royalti, iuran tetap dan lain sebagainya.

Dalam analisa WALHI Kalimantan Selatan ada 4 (empat) indikasi modus besar yang sering ada dalam indikasi korupsi sektor pertambangan di Kalimantan Selatan, yaitu :

1. Mengeluarkan izin pertambangan tanpa adanya izin pinjam pakai kawasan atau menerbitkan izin kepada pihak perusahaan yang belum memiliki Amdal dan UKL-UPL.

2. Diduga Pemberian izin yang tak sesuai dengan peruntukannya. Luas izin konsesi pertambangan, HTI, HPH dan Sawit, melebihi luas wilayah (propinsi) dimana izin tersebut dikeluarkan.

3. Diduga Melakukan praktek suap dan gratifikasi secara langsung terhadap para pejabat dan aparat penegak hukum.

4. Diduga Memanipulasi data produksi untuk menghindari pembayaran royalti kepada Pemerintah setempat.

Seiring dengan semakin maraknya indikasi kasus-kasus korupsi sektor pertambangan baik itu yang berkaitan langsung dengan keuangan negara, penyalahgunaan wewenang, pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan dan kelestarian lingkungan hidup yang ada di Kalimantan Selatan. Untuk itu lah perlu sebuah posko pengaduan yang mampu menampung aspirasi dan permasalahan yang diadukan oleh masyarakat yang selama ini.

Maka untuk itu perlu kiranya WALHI Kalsel untuk secara terbuka membuka posko pengaduan korupsi pertambangan yang dapat “menjembatani” keluhan-keluhan dan aspirasi masyarakat yang selama ini tidak tersampaikan dengan baik ke pemerintah daerah baik itu pihak eksekutif dan legislatif.

Sedangkan tujuan utama dari adanya posko pengaduan korupsi pertambangan dan lingkungan hidup ini adalah :

  1. Untuk menyampaikan dan menyuarakan berbagai kasus korupsi pertambangan dan lingkungan hidup yang ada di Kalimantan Selatan mampu menjadi isu publik, sehingga mampu menjadi alat penekan bagi pengambil kebijakan dan aparat penegak hukum untuk segera mengatasi permasalahan-permasalahan terkait isu korupsi tersebut.
  2. Membangun kesadaran kritis masyarakat dan memperkuat gerakan anti korupsi
  3. Membongkar perilaku indikasi korupsi yang melibatkan penguasa dan pengusaha yang ada di kalsel terkait sector pertambangan dan mendorong adanya “Pengadilan Masyarakat” bagi para koruptor
  4. Membangun gerakan bersama anti korupsi lintas sektor, dan lintas generasi.

Analisa WALHI Kalsel Terkait Dengan Hasil Temuan Audit BPK (PDTT), TA 2006 – 2007

Atas Pengelolaan Pertambangan Batubara 8 Kabupaten di Kalsel

No

Klasifikasi Temuan

Jumlah Temuan

Nilai Potensi Kerugian Negara (Milyar Rupiah)

1

Kelemahan Sistem Pengendalian Intern (SPI)

21

-

2

Indikasi Tindak Pidana

12

-

3

Potensi Kerugian Negara dan Kekurangan Penerimaan Negara

20

194.188.279.836

4

Kerusakan Lingkungan

27

-

Total

80

194.188.279.836

Analisis Temuan :

21 kasus temuan kelemahan SPI yaitu kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan, kelemahan kebijakan dalam pemberian ijin PKP2B dan KP, pungutan negara disetorkan ke kas daerah, pengalokasian DBH dari DHPB kurang memperhatikan asas keadilan bagi daerah dan duplikasi pungutan;

12 kasus indikasi tindak pidana yaitu indikasi tindak pidana kehutanan berupa kegiatan penambangan batubara di kawasan hutan tanpa ijin pinjam pakai dari Menteri Kehutanan dan indikasi tindak pidana pemalsuan ijin ;

20 kasus kekurangan penerimaan negara, potensi kerugian negara, dan Dana Bagi Hasil (DBH) yang belum diperhitungkan senilai Rp. 194 Milyar karena beberapa hal seperti danya penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pembayaran belum/tidak atau terlambat dipungut/diterima /disetor ke Kas negara/ daerah, jaminan reklamasi yang belum disetor dan/atau ditempatkan dan ganti rugi tegakan kayu yang belum dibayar;

27 kasus temuan kerusakan lingkungan yaitu kerusakan dan/atau pencemaran lingkungan.

Sabtu, 08 Januari 2011

ISLAM KAFFAH

Kemajuan peradaban tidak akan terwujud jika masyarakatnya hanya mengandalkan “iman” dan jargon-jargon gigantis yang tidak berdasar. Kapan dan di mana pun, kemajuan peradaban mengandaikan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan, baik yang lunak (soft science) atau yang keras (hard science).Penguasaan ilmu pengetahuan itu harus didukung oleh suasana kebebasan yang jauh dari klaim sesat-menyesatkan.Kebebasan dan semangat ilmiah inilah yang membuat Islam pernah mencapai masa keemasannya.

Hai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam as-silmi secara utuh, dan janganlah kalian turuti langkah-langkah setan.Sungguh setan itu musuh yang nyata bagi kalian. (QS. Al-Baqarah: 208).

Ayat di atas selalu dijadikan rujukan oleh sekelompok muslim untuk mengkampanyekan istilah “Islam Kaffah” atau “Islam utuh”. Dalam pandangan mereka, ayat ini merupakan ajakan wajib bahwa setiap muslim harus menjalankan ajaran Islam secara utuh, dari ujung rambut sampai ujung kaki; dari bangun tidur sampai tidur kembali.

Tidak jelas betul makna utuh yang dimaksudkan karena keutuhan itu ternyata sangat bergantung pada pemahaman tertentu tentang Islam.Ketika pemahaman tentang Islam bercorak fikih, maka keutuhan yang dimaksud adalah keutuhan dalam konteks fikih. Itu pun masih dipengaruhi hanya oleh mazhab tertentu dalam fikih sambil mengabaikan mazhab-mazhab yang lain. Puncak idealisasi Islam Kaffah adalah mendirikan sebuah negara yang berasaskan Islam karena, menurut logika mereka, tanpa negara Islam tidak dapat dijalankan secara utuh.

Muncullah simbol-simbol parsial yang secara ketat dikenakan dan dianggap sebagai bagian dari keutuhan Islam.Gaya pakaian, penampilan fisik, ujaran sehari-hari, gerakan bahkan organisasi dan ideologi menjadi pilihan untuk menegaskan keutuhan Islam.Tidak terpikirkan lagi oleh mereka soal otoritas dan interpretasi dalam semangat ini.Dan, klaim ini mengandung problem mendasar mengingat pemahaman tentang Islam sangat beragam, baik di masa lalu maupun di masa kini.

Kata As-Silmi

Sebagian ulama menafsirkan kata as-silmi dalam ayat di atas sebagai Islam. Namun sebagian yang lain menafsirkannya sebagai kepasrahan, proses perdamaian dan ketundukan. Sufyan ats-Tsauri bahkan menafsirkan kata as-silmi sebagai simbol berbagai kebajikan (Tafsir al-Qurthubi, II, Darul Kutub Ilmiah, Beirut, 2000) . Intinya, tidak ada konsensus (ijma’ ) ulama bahwa tafsiran kata as-silmi adalah Islam. Ia memiliki interpretasi yang beragam dan setiap muslim dapat memilih interpretasi yang lebih sejalan dengan semangat zaman. Akan lebih menarik jika kata as-silmi dalam ayat di atas dipahami sebagai proses perdamaian serta ketundukan pada nilai-nilai universal yang ada dalam setiap ajaran mana pun. Setiap orang beriman diajak untuk selalu menempuh proses perdamaian dan menjalankan nilai-nilai universal dalam rangka menciptakan kehidupan yang lebih beradab dan sejahtera.

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah dalam proses perdamaian (dan menjalankan nilai-nilai universal) secara utuh”. Dengan menafsirkan ayat di atas sebagai ajakan menciptakan perdamaian, maka “sasaran dakwah” ayat tersebut menjadi lebih luas dan dapat diterima oleh berbagai kalangan yang mencintai nilai-nilai kemanusiaan.

Andai tafsir ayat itu dipertahankan sebagai ajakan untuk menjalankan Islam secara utuh, otomatis kita harus mengakui ragam pemikiran yang pernah ada dalam sejarah Islam.Islam bukan hanya diwakili oleh Syafii (fikih), Ghazali (tasawuf), Asy’ari (aqidah), Bukhari (hadis) dan lain-lain yang di kalangan Sunny dianggap sebagai figur-figur otoritatif.Islam pun tidak hanya bicara soal fikih (hukum), tapi Islam juga bicara soal ilmu pengetahuan, kemanusiaan, filsafat, mistisisme dan lain-lain.

Sejarah Islam telah menunjukkan kekayaan pemikiran yang sangat luas dalam berbagai disiplin ilmu di zamannya. Inilah yang membuat seorang sejarawan asal Belgia, George Sarton, menyatakan bahwa tugas utama kemanusian telah dicapai oleh para muslim. Filsuf terbaik, al-Farabi (339 H/950 M), adalah seorang muslim. Matematikawan terbaik, Abu Kamil (850 M) dan Ibn Sina, adalah muslim. Ahli geograpi dan ensklopedia terbaik, al-Masudi (856 M), adalah seorang muslim, dan al-Thabari (310 H), ahli sejarah, juga seorang muslim (George Sarton, Introduction to the History of Science, 1948).

Di bidang filsafat, tasawuf dan teologi kita mengenal para tokoh seperti al-Kindi (873 M), Ibnu Sina (428 H/1037 M), Abu Bakar Ar-Razi (313 H/925 M), al-Halaj (923 M), Abu Yazid al-Bustami (261 H/874 M), Suhrawardi al-Maqtul (587 H) dan lain-lain dengan berbagai perbedaan pemikiran spekulatif yang luar biasa. Berbagai gagasan dan pemikiran yang pernah mereka tuangkan dalam karya-karya mereka menunjukkan kebebasan berpikir yang jauh lebih dahsyat dari apa yang dibayangkan oleh kelompok muslim yang mengkampanyekan Islam Kaffah di zaman sekarang ini.

Alih-alih mengenal kekayaan khazanah pemikiran dalam Islam, kampanye Islam Kaffah justru terjerumus pada rigiditas dan simplifikasi yang tidak menggambarkan bahwa Islam pernah berada pada masa keemasannya. Jika Islam hanya diwakili oleh tokoh-tokoh seperti Syafii (204 H/819 M), al-Ghazali (450 H/1058 M), Asy’ari (324 H/935 M), Bukhari (256 H/870 M), dan Ibnu Taymiyah (728 H/1328 M), terlalu sulit memahami bahwa Islam pernah mencapai masa keemasan.

Kemajuan peradaban tidak akan terwujud jika masyarakatnya hanya mengandalkan “iman” dan jargon-jargon gigantis yang tidak berdasar. Kapan dan di mana pun, kemajuan peradaban mengandaikan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan, baik yang lunak (soft science) atau yang keras (hard science).Penguasaan ilmu pengetahuan itu harus didukung oleh suasana kebebasan yang jauh dari klaim sesat-menyesatkan.Kebebasan dan semangat ilmiah inilah yang membuat Islam pernah mencapai masa keemasannya.

Ulasan singkat ini ingin menegaskan dua hal: pertama, istilah Islam Kaffah lahir dari kata as-silmi yang terdapat dalam suarah al-Baqarah ayat 208. Kata as-silmi tidak hanya memiliki satu arti, tapi ia memliki banyak arti: islam, ketundukan, proses perdamaian dan kepasrahan. Setiap muslim harus berani berpikir untuk memilih interpretasi yang lebih modern dan sesuai dengan semangat zaman. Kedua, jargon Islam Kaffah harus ditinjau ulang karena telah terjerumus pada rigiditas pemahaman terhadap Islam yang begitu kaya dengan berbagai pemikiran yang pernah ada dalam sejarah Islam.Pengusung Islam Kaffah harus menguji ideologi yang selama ini mereka perjuangkan dengan penuh semangat. Mereka harus berani membuka diri terhadap berbagai aliran pemikiran dalam Islam yang sangat plural jika mereka benar-benar ingin menjadi muslim yang kaffah.